Alhamdulillah, sejak November 2008 hingga saat ini (18 Januari 2010),
islamarket telah menjual 1068 buku. Jazakumulloh Khoiron Katsiron.

Kecil-Kecil Bisa Jadi Da'i

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Buku Anak - Buku Anak

Addthis

Kecil-Kecil Bisa Jadi Da'i
Kecil-Kecil Bisa Jadi Da'i
Harga Rp. 28 ribu


Setiap Muslim pada hakikatnya adalah pengganti Rasulullah yang wajib menyampaikan dakwah. Di tengah arus kehidupan yang semakin permisif kita dituntut menjadi individu yang sanggup memikul tanggung jawab dakwah dan perbaikan masyarakat. Tak terkecuali remaja. Remaja sebagai bagian dari masyarakat juga dituntut mampu memberi warna positif kepada masyarakat. Ups, dakwah kan berat? Perlu dicatat, dakwah tidak harus ceramah kok.

Menyiapkan generasi dai memang bukan perkara mudah. Bukan sekadar menyiapkan teks pidato dan baju koko. Tapi, lebih dari itu dibutuhkan ilmu dan keberanian untuk menyampaikan kebenaran.

Penulis menuturkan berpuluh cerita penuh warna. Kisah para dai kecil menyampaikan kebenaran. Dari masa kenabian hingga akhir zaman. Berbagai peristiwa sarat makna itu mengokohkan dan meneguhkan kita pada satu kenyataan bahwa dakwah ini akan tetap lestari, dakwah ini tak akan mati.

Tetapi, bagaimana cara kita menyemai rasa cinta dakwah dalam diri anak-anak? Biarkan buku ini menjawabnya.

__________________________________

Nggak ada yang salah dalam menyampaikan dakwah jika yang disampaikan memang sesuai tuntunan syariat. Siapa pun boleh dan bisa menyampaikan dakwah. Bahkan wajib hukumnya bagi mereka yang sudah baligh. Tapi, bagaimana jika anak-anak yang menyampaikan dakwah? Boleh-boleh saja selama dakwahnya benar.

Adalah ajang Pildacil (pemilihan dai cilik) di Lativi yang telah memberi kesempatan kepada anak-anak untuk tampil sebagai dai. Pildacil di Lativi kini sudah memasuki periode ketiga. Sejak digeber Ramadhan 1426 H lalu sampai Maret 2007 ini sudah empat periode menghasilkan dai cilik (sekarang masuk Pildacil 5). Pildacil pertama mengorbitkan Rajiv dari Cianjur. Sementara Pildacil 2 mengantarkan Zagar dari Medan sebagai pemenang pertamanya mengungguli Kiki dari Bandung dan Rona dari Yogyakarta.

Saya termasuk yang menyukai acara ini. Karena terus terang saja, acara seperti ini sangat jarang ditayangkan televisi. Paling nggak acara ini bisa menumbuhkan minat di kalangan adik-adik kita untuk berlomba dalam kompetisi menjadi dai cilik. Namun, kalo ngeliat ‘tim kreatif’ dalam ajang itu, saya jadi merasa harus mewaspadai bahaya yang mengancam adik-adik kita (termasuk kita para orangtua). Bahaya itu tentu bukan berupa kerusakan secara fisik, tapi kerusakan dalam bentuk kepribadian dan mungkin saja gaya hidup.

Ajang pemilihan dai ini sebenarnya udah dirintis oleh TPI. Tapi itu khusus untuk yang udah dewasa. Pemilihannya pun sama dengan Pildacil, yakni diserahkan kepada pemirsa lewat polling SMS. Berbeda dengan DAI TPI, Pildacil punya daya tarik tambahan, yakni karena pesertanya yang imut-imut dan ngegemesin. Nggak hanya itu, di balik wajah yang lucu dan imut itu, ternyata mereka punya segudang keunggulan. Paling nggak dalam retorika berbicara, keberanian tampil di depan umum, dan kelihaian menyampaikan materi ceramah.

Orang tua mana sih yang nggak terpukau dan haru ngelihat kepiawaian Kiki yang masih 6 tahun (kelas 1 SD) membawakan ceramah yang mirip dengan gaya Aa Gym? Atau Zagar yang lebih nyetel dan mirip dengan Zainuddin MZ dan Jefry al-Bukhari ketika melantunkan ayat-ayat al-Quran.

Untungnya, ajang ini masih menempatkan pembimbing yang akan menilai dan mengarahkan si dai cilik. Di antara sekian pembimbing yang bagus dalam memgarahkan calon dai cilik ini adalah Mbak Neno Warisman. Beliau nggak pernah bosan untuk mengingatkan para orangtua yang udah ‘mendesain’ dai cilik sedemikian rupa. Mbak Neno merasa khawatir, para dai cilik ini akan menjadi orang dewasa mini. Dengan kemampuan potensi yang dimiliki anak seusia mereka, khawatir dimanfaatkan oleh orang dewasa yang nggak bertanggung-jawab untuk mengeksploitasinya menjadi tambang uang.

Selain menuai banyak dukungan karena dinilai memberikan tayangan yang mencerahkan dan mendidik, tapi banyak pula pihak yang justru merasa khawatir. Seperti dalam sebuah komunitas diskusi di dunia maya (ajangkita.com), ada catatan dari seorang membernya tentang Pildacil ini, “Kalau saya malah agak miris. Kok kesannya dakwah itu sebatas berkata-kata di atas mimbar. Dan kebanyakan mereka berbicara bukan dengan hati, terlalu banyak bumbu-bumbunya. Bahkan kadang “menjilatnya” (ucapan selamat kepada pejabat ini dan itu sambil memohon dukungan SMS).
Saya khawatir acara ini mengikis makna keikhlasan, kesederhanaan dan kemandirian,”

Ya, saya juga punya perasaan yang sama. Sebenarnya potensi adik-adik kita itu bagus, hanya tinggal mengarahkannya aja ke jalur yang aman. Nggak dieksploitasi demi kepentingan tertentu. Jika suasana kompetisi dakwah (idih, dakwah kok kompetisi, jadi nggak enak ati nih!) seperti itu, maka bukan mustahil dong kalo akhirnya memberikan peluang untuk menjadikan dakwah sebagai profesi. Padahal, dakwah tuh kewajiban. Tul nggak? Bahkan dengan ‘mengemis-ngemis’ minta dukungan SMS dari pemirsa atau pejabat tertentu dari daerah asal si peserta, sebenarnya sudah menunjukkan bahwa pemilihan ini boleh dikata nggak mendidik dengan benar.

Kita juga pantas khawatir dan cemas jika pencarian potensi dai itu melalui polling. Bukan isi dakwah yang disampaikan. Malah, jika kita jeli melihat ‘skenario’ besar dalam ajang itu, paling nggak dari pengamatan yang nampak di lapangan, akan memunculkan sederet ‘kecurigaan’ yang perlu diungkap. Misalnya, apa benar tuh penghitungan polling-nya? Apa benar ada rekayasa yang berkaitan dengan dunia kapitalisme yang apa pun bisa dijadikan industri untuk ngeruk duit? Seperti kasus Indonesian Idol pertama. Konon kabarnya dari diskusi-diskusi di dunia maya yang beredar sempat muncul pernyataan bahwa secara kualitas Nania tuh lebih oke ketimbang Joy. Tapi rupanya ada ‘invisible hand’ yang merekayasa supaya Joy yang naik. Biar lengkap lagi harus ada sosok yang menjual secara industri. Maka, Delon-lah yang ganteng dan fashionable kembali menggeser Nania.

Ah, jika ajang pildacil juga lebih mementingkan unsur entertainment, jika dakwah yang bagus tuh yang menghibur (sementara miskin pesan kebenaran), rasa-rasanya kita akan tetap jalan di tempat dan umat ini akan semakin jauh dari pemahaman sejati tentang Islam. Jika dai yang menarik adalah yang menghibur, bukan karena isi ceramahnya yang benar dan apa adanya sesuai tuntunan syariat, maka ruh dakwah yang syarat dengan perjuangan hidup dan mati akan kehilangan wibawanya.

Semoga para calon mubaligh dan yang sudah jadi mubaligh nggak terjebak dalam jeratan gemerlap industri kapitalisme yang akan mendesain mereka menjadi badut. Wallahu’alam

Dikutip dari:
http://osolihin.wordpress.com/2007/04/02/kecil-kecil-jadi-dai/

_______________________________

Penulis: Nashir Syafi’i
Ukuran: 14 x 20,5 cm ; 208 hal

Kecil-Kecil Bisa Jadi Da'i
Harga Rp. 28 ribu

Hubungi:
Azmi Yudianto
0856 4117 4798

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it




Software Al wustho Paket Netbook
CD software Fontbaord ketik arab sesuai abjad indonesia
Al Quran 15 in 1
Al Quran 15 in 1

IKLAN PARTNER: Konsultasi Penyakit dan Temukan Obatnya | Menerima Panggilan BEKAM

konsultasi penyakit menerima Panggilan Bekam